PDKPBABEL MENGUNDANG SELURUH CAKAPER OMBUDSMAN RI BANGKA BELITUNG

Pada saat penyelenggara negara menjadi birokratis dan koruptif dalam menjalankan tugas fungsi dan kewenangannya mengatasnamakan amanah Konstitusi maka Ombudsman adalah salah satu institusi masyarakat sipil yang dicita-citakan mampu melakukan pengawasan, perbaikan serta pemulihannya. Singkatnya Ombudsman baik yang dulu dalam perpektif Keppres 44 Tahun 2000 dan kini UU No. 37 Tahun 2008 masih dibutuhkan.

Mengupas UU No.37/2008 itu terdapat 2 dasar yang menjadi pertimbanganNegara perlu membentuk Ombudsman. Pertama kali, negara menyebutkan bahwa tugasnya yang diwujudkan dalam bentuk pelayanan masyarakat dan penegakan hukum adalah karena negara ingin mensejahterahkan, menciptakan keadilan dan kepastian hukum bagi masyarakat, selanjutnya negara menyebutkan timbul kekhawatiran jika tidak adanya kehidupan demokratis dan pengawasan oleh Ombudsman maka  “ia/mereka” (baca: Negara) menjadi organisasi yang penuh kesewenangan “abuse of power” dalam menjalankan tujuan pendirian negara.

Jika demikian, maka Ombudsman bukan semata lahir dari buah Reformasi 1998 atau kehendak rakyat tetapi ia juga lahir dari kehendak Negara itu sendiri. Persoalannya, Ombudsman khususnya perwakilan Ombudsman di daerah setelah hampir 20 tahun belum tersosialisasikan secara jelas kepada masyarakat. Publik tidak melihat adanya kebermanfaatan dan efektifitas jika melaporkan keluhannya terhadap kinerja penyelenggara pelayanan public melalui ombudsman.

Bisa saja hal ini terjadi karena Proses Pemilihan Kepala Perwakilan Ombudsman daerah tidak dilakukan secara terbuka. Semakin  memicu kecurigaan masyarakat sipil Bangka Belitung bahwa proses seleksi pertama yang dilakukan Ombudsman RI pada bulan Juli 2019 dinilai tidak memiliki alasan yang objektif sebab berdasarkan pengumuman Ombudsman No.20 Tahun 2019 dinyatakan tidak adanya satu orangpun calon yang dinyatakan lolos seleksi sebagai Kepala Perwakilan Ombudsman RI Bangka Belitung.

Padahal terdapat 2 figur calon yang diketahui masyarakat sipil tidak terlibat politik praktis dan partai politik, masih “getol” dalam issue demokrasi dan perwujudan tata kelola pemerintahan yang baik. Tidak ditemukannya kedua orang itu ternyata diketahui bahwa pada tahap profile assessmen yang dilakukan pansel bentukan Pimpinan Ombudsman RI telah menyatakan ”4 nama calon tersebut tidak dianjurkan, sehingga tidak satu orangpun yang akhirnya dapat dibawa ke meja sidang pleno Pimpinan Ombudsman RI.

Ditengah kemajuan teknologi informasi dan mencermati kemajuan proses seleski yang sudah dilakukan dalam seleski Calon Pimpinan KPK, maka sudah saatnya pula Ombudsman RI melakukan perubahan dimulai dari pelaksanaan Uji Wawancara Calon Kepala Perwakilan RI Bangka Belitung diadakan secara Siaran Langsung melalui media social.

Usulan ini sebenarnya telah ditanggapi positif oleh Pimpinan Ombudsman RI Bapak Alvin Lie dalam pertemuan nya dengan PDKPBABEL pada 14 November 2019, namun sayangnya karena rencana seleksi Caon Kepala Perwakilan jilid kedua untuk bangka belitung telah disusun dan diputuskan, maka Siaran Langsung Uji Wawancara Cakaper Ombudsman RI Babel terpaksa tidak dapat diselenggarakan untuk kali kesempatan ini.

TUJUAN KEGIATAN

  • Memberikan dukungan kepada peningkatan pemahaman publik tentang Ombudsman RI dan Kantor Perwakilan Ombudsman RI Bangka Belitung;
  • Wadah pengenalan tentang Ombudsman dari para calon Kepala Perwakilan Ombudsman RI Bangka Belitung;
  • Wadah Uji Coba Uji Wawancara Terbuka Calon Kepala Perwakilan Ombudsman RI Bangka Belitung.

BENTUk DAN WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

Sesuai dengan judulnya kegiatan ini sederhananya adalah Tanya Jawab antara panelis yang telah ditentukan oleh PDKPBABEL dengan Calon Kepala Perwakilan Ombudsman RI BABEL. Makna Obiter Dicta sendiri mencoba menerangkan keseriusan acara ini sebab istilah Obiter Dicta adalah terminologi yang dikenal oleh para hakim dengan sistem Common Law, ketika para hakim mencoba memeriksa suatu perkara yang mengandung hukum asing kemudian mencari suatu pertanyaan yang sepintas lalu tidak menyentuh pokok perkara namun menjadi petunjuk baginya dapat mengetahui penalaran hakim sesungguhnya (dalam hal ini Hakim sesungguhnya pada Seleksi Cakaper Ombudsman adalah Pimpinan Ombudsman RI).

Proses acara ini akan disiarkan secara LIVE melalui akun Facebook PDKPBABEL yang teregister di www.facebook,com/bantuanhukumbabel . Pelaksanaan kegiatan diadakan di Ruang Diskusi PDKPBABEL yang beralamat di Jalan Stania No 133 PangkalPinang Bangka Belitung, pada Tanggal 4 Desember 2019, mulai pukul 20.00 WIB, namun 1 Jam sebelumnya diharapkan seluruh Narasumber telah hadir untuk keperluan gladi resik.

PESERTA DAN PANELIS

Peserta Utama dalam kegiatan ini adalah seluruh Calon Kepala Perwakilan Ombudsman RI Bangka Belitung yang berperan sebagai Narasumber. Kemudian Peserta Tamu adalah mahasiswa dan masyarakat yang diundang untuk mengikuti acara secara langsung di tempat Pelaksanaan kegiatan.

Para Calon Kepala Perwakilan Ombudsman RI yang dapat mengikuti acara ini terlebih dahulu mengirimkan formulir kesediaan menjadi peserta utama yang disampaikan secara tertulis kepada panitia pelaksana selambatnya Tanggal 04 Desember 2019 pukul 12.00 WIB, lebih dari waktu yang ditentukan karena alasan teknis Panitia Pelaksana akan melakukan anulir.

Panelis dalam kegiatan ini adalah narasumber yang akan memberikan pertanyaan kepada Cakaper Ombudsman RI. Para Panelis dalam kegiatan ini adalah para pendiri dan pengurus PDKPBABEL.

ANGGARAN BIAYA

Kegiatan ini bersumber dari Kas Organisasi PDKPBABEL. Peserta Utama yakni Cakaper Ombudsman RI BABEL dapat memberikan Donasi namun terbatas hanya sebesar Rp. 1.000.000,- perorang.

Seluruh hasil perolehan donasi yang tidak mengikat serta sponsorship dari kegiatan ini setelah dikurangi dengan total anggaran biaya pelaksanaan yakni sebesar Rp. 14.700.000,- (Empat Belas Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah) adalah hasil yang sah untuk dikuasai oleh PDKPBABEL sebagai pemasukan kas organisasi.

PENUTUP

Demikianlah kerangka acuan ini dibuat. Untuk kontak person dapat menghubungi Ketua Pelaksana Kegiatan Hardianda melalui WA +62 857-7662-6591.

Puisi “Kini Masa”

Pengamat Perda RZWP3K

Kini Masa jauh sebelum kronologis tercipta.
Kini Masa jauh sebelum sejarahnya ada.

Kau dan aku berawal dari angin,
Beranjak seiring waktu berubah dari menjadi angan yang tak terkira

Sebelum pernah kau sebut kronologis menjadi Lini Masa
Sekarang aku sebut masa lalu menjadi Kini Masa

Perubahan dari Lini Masa ke Kini Masa, tentu dinamis. Sama seperti pribadinya kita, berubah sedemikian rupa, terproses dari keburukan hingga menjadi kebaikan, terproses dari sedih menjadi agak bahagia, terproses perubahan yang meninggi drastis, terproses dari sapa berujung tawa, kenal berujung teman, teman berujung dekat, dekat berujung kini.

Dulu ku sebut dua tahun lalu yang telah berlalu untuk tiga tahun yang akan datang sebagai tujuan, seiring masanya kita memperbaiki dan melengkapi yang kurang atau belum ada.

Tapi kini semua itu sirna, aku berhenti bermimpi, aku berhenti berdoa, aku tidak ingin melanjutkan perjalanan itu, aku tidak ingin sampai pada tujuan itu, karena tujuanku kini masa untuk berbalik arah, melihatmu bahagia, meski bukan menikah denganku.

Supremasi Hukum

Lebih tinggi dari langit, lebih besar dari semesta, lebih luas dari cakrawala, lebih terhormat dari penguasa.

Tercipta secara perlahan-lahan, bertahap-tahap, beguyur-guyur, berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, tidak secara langsung dan menyeluruh, tapi pelan dengan pasti.

ia punya cita-cita, dengan pasti, banyak manfaat dan melahirkan keadilan. Di Inggris dan di Amerika Serikat, ia dirawat dan dibesarkan oleh para evolusioner.

Ditanam oleh kakek buyut, lalu dipetik generasi milenial yang kurang bersyukur. Kalau tidak dijaga, ia tidak akan terwujud dimasa sekarang, jangankan masa depan.

Jaga ia, agar tetap tumbuh bukan sebagai barang antik, tapi sebagai mutiara yang diperebutkan orang banyak.

Puisi bagi saya

Pengamat Perda RZWP3K

Puisi bagi saya adalah cara untuk menyampaikan pesan, cara untuk menyampaikan perasaan, cara untuk menyampaikan curahan hati, menyatakan cinta, rindu, kekhawatiran, bahkan puisi bagi saya adalah cara untuk marah-marah.

Ada banyak cara orang menulis puisinya, tapi tujuan akhirnya menuntut pembaca agar menginterpretasikan dan/atau menafsirkan sebuah puisi tersebut.

Cara menulis puisi yang pertama (bagi saya) adalah dengan kata-kata yang mudah dimengerti bagi pembaca, namun memiliki makna yang dalam tersirat dan membuat pembaca bertanya-tanya untuk apa dan untuk siapa (tujuan) puisi tersebut diciptakan.

Cara yang kedua, adalah membungkusnya dengan kata-kata hiperbola yang sulit dimengerti, membuat pembaca menginterpretasi tiap-tiap kalimat, sehingga bagi sepuluh pembaca, tiap kalimat memiliki sepuluh makna yang berbeda.

Cara yang ketiga, adalah membungkus makna dengan kata-kata yang sulit dimengerti, sehingga makna yang disampaikan oleh penulis bagi para pembaca sama sekali kontradiktif.

Kadang-kadang saya sendiri menulis puisi menganalogikan sesuatu. Misalnya, “Nasionalisme ibarat bunga mawar, tidak ada bunga mawar yang seindah bunga mawar di rumah orang lain, selain di rumah kita sendiri.” Dan

“Senja adalah wanita yang malu-malu, karena terlalu lama ditatap oleh manusia, wajahnya langsung memerah malu, menandakan ia sedang malu.”

Contoh lain misalnya, dengan kata-kata yang mudah dimengerti, namun memiliki banyak interpretasi para pembaca, misalnya
“Kacau, tampak kau.

Kau, tampak kacau.

Tampak kau, kacau.”

Begitulah kira-kira puisi bagi saya, mari berpuisi, jangan malu berpuisi.