BASIT TERPILIH SEBAGAI KETUA KAHMI PANGKALPINANG

Pangkalpinang, Lababel. Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam atau yang di singkat KAHMI, merupakan wadah berkumpul para alumni-alumni HMI di Pangkalpinang mengadakan Rapat Pleno yang salah satu isinya pergantian Ketua. Bertempat di Kantor Markas Cinda Kelurahan Selindung yang dihadiri seluruh Presidium dan Perwakilan Majelis Daerah KAHMI Pangkalpinang, 9 Februari 2020.

Ini sebuah amanah yang diberikan kanda/yunda alumni HMI di Pangkalpinang, untuk saya bersama jajaran Majelis Daerah KAHMI Pangkalpinang siap mengemban organisasi ini dengan kegiatan dan program-program yang bermanfaat untuk alumni HMI dan masyarakat, ujar Basit Cinda yang juga seorang pengusaha.

Lanjut Basit, kedepan sebagai bentuk control sosial kami akan mengawal pembangunan di kota Pangkalpinang dengan diskusi-diskusi serta kajian ilmiah perihal isue-isue terkini yang terjadi.

Dalam hal kemandirian organisasi kami berencana membuat program pemberdayaan potensi Alumni HMI yang cukup kuat dan juga mandiri. Hal ini untuk menjaga agar ke kritisan bisa tetap terjaga tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

(Refleksi 73 tahun HMI) Oleh Adhy Yos Perdana (Ketua umum HMI cabang Bangka Belitung)

Adhy Yos Perdana
Formatur Ketua Umum HMI cabang Bangka Belitung

“Paham akar paham buah, jika akar mulai tak kuat jangan heran jika buah banyak busuk”

Dalam suatu pengantar maka perlu kita ketahui bersama bahwa kita kader patut berbangga masuk didalam keluarga besar HMI yang berarti wadah yang begitu besar dan sudah sejak lama malang melintang dikanca pergerakan mahasiswa Indonesia sedari belia hingga kini HMI masih tetap konsisten mengawal keberlangsungan negara republik Indonesia, hal tersebut baik dilakukan oleh kader-kader HMI itu sendiri maupun alumni HMI, karena HMI adalah organisasi kader.

Kemudian tiba lah saatnya kita akan menemukan dan dihadapkan pada dilema apakah kita masuk didalam wadah yang sebegitu besarnya sehingga kita merasa kecil dan tak paham, atau karena saking besarnya sehingga kita tak paham apa saja isinya dan esensi nya dan tak dikenalkan esensi keberadaan tatkala baru bergabung di wadah yang diberikan nama HMI ini.

Maka tak muluk-muluk tatkala saya beri sampul “Paham akar paham buah, jika akar mulai tak kuat jangan heran jika buah banyak busuk”. Hal tersebut setidaknya sedikit memberikan gambaran kondisi wadah kita sekarang yang bernama HMI ini. Artinya jangan heran tatkala kondisi yang sekarang ini terjadi, karena kita lihat tema ataupun sampul awal lihat akar maka jumpai hasilnya, yaitu buah itu sendiri.

Yang terjadi hari ini adalah akibat dari akar yang bermasalah beberapa kurun waktu lalu, maka tak heran jika buahnya hari ini ya demikian adanya seperti yang kita lihat.
Tapi disini saya tak akan membahas terkait buahnya, karena buah akan selalu di perbarui. Saya ingin mengajak kawan-kawan pembaca ataupun melihat dan mengetahui seksama akar ataupun esensi dari wadah ini, serta perjuangannya sebagai sepirit dan semangat bahwa perbaikan akan segera hadir dalam wadah yang kian besar ini. Dan itu yang harusnya kita pikirkan dan kita jemput bersama sebagai generasi yang progresif dan revolusioner.

Tak lupa di hari yang bahagia ini Rabu, 5 Februari 2020 kepada Kawan-kawan kader HMI dan alumni HMI baik yang tergabung di KAHMI ataupun tidak, saya ucapkan selamat milad HMI ke-73. Semoga semakin besar dan sukses serta terus melahirkan generasi pembaharu yang diharapkan masyarakat. Kenapa saya turut mengucapkan selamat milad HMI untuk KAHMI? Tentu saja demikian saya ucapkan karena KAHMI sebagai lembaga formal yang menghimpun alumni HMI . Artinya orang-orang yang telah berproses dan turut serta dalam membesarkan HMI ini.

Di Usia yang ke-73 tahun tentu bukan belia atau muda lagi bagi HMI selaku organisasi Mahasiswa yang diharapkan berperan aktif dalam peranannya mengembangkan peradaban manusia.

Di usia tersebut tentu HMI mau tidak mau akan di kenang dan dikenal, hal ini yang harus kian menjadi perhatian bagi kader HMI dalam perjuangannya yang komprehensif.

Dalam sebuah kenangan, HMI telah berkiprah menjadi organisasi moderat dan perjuangan dengan misi keislaman dan keumatan yang menjadi pondasi kuat berdirinya organisasi ini. Dikarenakan bukan merupakan suatu kebetulan atau hanya kehendak kepentingan ataupun perut elite perlu di perhatikan secara mendasar dan di ingat kembali secara bersama, Bahwa HMI lahir dan didirikan oleh Mahasiswa dari berbagai kampus dari berbagai daerah di tanah air. Yang kemudian para mahasiswa tersebut bermusyawarah di Jogjakarta sebagai kota pusat intelektual, yang di prakarsai oleh Lafran pane kala itu.

Hal yang kemudian melatarbelakangi Lafran pane dan kawan-kawan bermusyawarah adalah karena risaunya mereka Melihat kondisi masyarakat Indonesia dan bangsa Indonesia kala itu yang masih bingung dalam sebuah kemelut pertempuran ideologi dunia.

Maka musyawarah tersebut melahirkan keputusan untuk mendirikan organisasi mahasiswa tanggal 14 rabiul awal 1366 H atau 5 Februari 1947 M di jogjakarta, yang kemudian diberi nama HMI atau himpun mahasiswa Islam yang kita kenal sekarang ini. Dengan membawa misi yang mulia sebagai awal berdirinya yaitu yang pertama “mempertahankan kemerdekaan Indonesia”, dan yang kedua “meninggikan derajat umat Islam di Indonesia dan meninggikan derajat bangsa Indonesia”. Hal tersebut dikarenakan kala itu kondisi umat Islam di Indonesia mayoritas tak paham akan ajaran Islam akibat kolonialisme Belanda dan Jepang selama berabad-abad.

Kemudian doktrin dari Belanda dan Jepang bahwasanya masyarakat Indonesia adalah kaum bawahan. Ini yang menjadi kesedihan dan akhirnya didirikan HMI ditengah kemelut pertikaian ideologi dunia kala itu yang sedang melanda Indonesia dan guncangan maha dahsyat yang sedang di alami bangsa Indonesia sesaat pasca 2 tahun di proklamirkan kemerdekaan bangsa ini. Harapannya agar kemudian HMI mampu mengawal dan memperbaiki kondisi yang ada.

Melalui sebuah komitmen yang besar, kader-kader HMI pun turut serta dan terlibat dalam berbagai pertempuran, sebagai bentuk komitmen juang HMI dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran-pertempuran yang dilakukan HMI Baik dalam menghadapi agresi militer yang dilakukan Belanda, maupun menghalau gerakan-gerakan pemberontakan seperti melawan pemberontakan PKI dan pemberontak lainnya yang mengancam kemerdekaan Indonesia, hal tersebut HMI lakukan untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam proses perjuangan HMI yang bersenjata ini maka dikenang HMI sebagai perjuangan fase bersenjata dalam sejarah perjuangan HMI.

Tak heran HMI banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang peradaban dan pejuang bangsa yang demikian militan untuk kemajuan bangsa Indonesia, serta melahirkan segenap pemikiran yang mampu mengeskalasi peradaban manusia di Indonesia umumnya.
Ketika HMI mengambil peran ditengah masyarakat maka dengan sendirinya sebagai bonus kemudian HMI dikenal dan dikenang di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai peranan yang telah dilakukan.

Bukan suatu hal yang mudah bagi HMI dalam menjalankan tugas dan perannya, Partai komunis Indonesia (PKI) yang merupakan partai politik besar kala itu yang segenap anggotanya masuk dalam kabinet dwikora (kabinet kepemimpinan presiden Soekarno) menghasut presiden untuk segera bubarkan HMI. Ini merupakan tantangan yang kian di terima oleh HMI kala itu. “Jika PKI tidak mampu membubarkan HMI maka pakai sarung saja”, ujar D.N. Aidit ketua umum PKI saat itu.

Ya, melalui hasutan yang dilakukan PKI terhadap presiden Soekarno HMI bahkan di bubarkan oleh orang nomor 1 di Indonesia saat itu, yaitu presiden Soekarno melalui Mentri agama Saifuddin Zuhri.

Hal tersebut dilatarbelakangi Karena presiden Soekarno menerima berbagai informasi bahwa HMI tidaklah baik, karena di anggap terus mengkritisi dan melakukan gerakan perubahan, yang pada hakikatnya hal tersebut karena merupakan jiwa muda kader HMI yang bersemangat dan terus memperjuangkan kebaikan bersama, dan terinspirasi dari pidato-pidato presiden Soekarno yang membangkitkan semangat juang anak muda dalam perbaikan untuk Indonesia. Hal tersebut juga yang kemudian dijelaskan oleh Mentri agama bapak Saifuddin Zuhri tatkala menolak untuk membubarkan HMI, dikarenakan alasan yang kurang logis yang disampaikan oleh presiden Soekarno.

Namun setelah Berbagai pertimbangan dan melihat potensi serta gerakan intelektual HMI yang terus membawa pelita perbaikan dan harapan bagi masyarakat Indonesia. Maka presiden Soekarno pun berkata “HMI tidak akan saya bubarkan, karena HMI merupakan organisasi Mahasiswa yang progresif dan revolusioner”, kemudian jendral Sudirman pun berkata ” HMI adalah harapan masyarakat Indonesia”. Yang artinya HMI betul-betul menjadi harapan bagi segenap bangsa Indonesia melalui pemikiran dan pergerakannya.

Perjuangan yang demikian panjangnya itu dan akan terus berlangsung selama kader-kader HMI masih bernafas dilandaskan kesadaran HMI akan ketuhanan yang maha esa, pengertian ketuhanan yang maha esa bagi kader HMI sendiri bukan hanya tentang mengahargai berketuhanan yang plural bagi pemeluk nya yang ada di Indonesia.
Melainkan ketuhanan yang maha esa yang akan melahirkan kejernihan yang terpancar pada sifat manusia yaitu berprikemanusiaan.

Hal ini kian menarik tatkala segenap manusia yang ada di dunia ini paham esensi daripada perikemanusiaan artinya memahami hakikat kemerdekaan dirinya sebagai manusia, atau manusia lainnya sebagai suatu pribadi yang harus dihargai.

Kemudian ketika kemerdekaan manusia tersebut telah direnggut oleh pihak yang tak beradab atau tak berperikemanusiaan, Maka HMI hadir melalui suatu perjuangan yang komprehensif untuk menumpas nya sebagai bentuk kerja amal (Amaliyah) yang merupakan kewajiban sebagai umat manusia untuk melindungi manusia lainnya sebagai mahluk sosial/ masyarakat (zoon politicon) dan didasari dari prikemanusiaan yang terpancar dari ketuhanan yang maha esa, serta ditunjukkan untuk suatu kebenaran mutlak yang kita kenal sebagai tuhan (Allah SWT).

Namun perlu diingat hal-hal yang disampaikan di muka adalah sejarah perjuangan (perjalanan) dan esensi daripada HMI itu sendiri.
Kemudian yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah sekarang kader-kader HMI paham akan ke-hmi an nya (esensi hadirnya HMI)? dan masihkah kita (HMI) berada didalamproses perjuangan guna mencapai mission HMI?
Mari kita pertanyakan kepada diri kita sebagai renungan dan kita siapkan langkah solutif kita selaku kader HMI yang berkewajiban untuk memperjuangkan perbaikan melalui wadah HMI.

Dengan keadaan dinamika dan pergolakan serta tarik ulurnya kepentingan berbasis ideologis, maupun kapitalis yang arusnya nyaris tak terbendung dalam kondisi seperti sekarang ini. HMI diharapkan dapat memahami kondisi yang ada dan dapat kembali menjadi pelita penerang yang memberikan solusi di tengah gundah gulana yang terjadi di masyarakat.
Bukan malah terseret dalam arus kepentingan dalam sebuah rekayasa modernisasi. Tetapi kader HMI melalui literasi dan proses kaderisasi yang kuat sejak di baiat di MAPERCA ataupun LK 1, sampai dengan baiat jenjang training formal paripurna LK 3 kader HMI yang menjadi agent dalam rekayasa sosial menuju suatu perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik lagi. Dengan perjuangan terus mendekati tujuan dr mission HMI, terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Terus perkuat akar dan wadah guna menopang berlarinya sebuah wadah.
Yakinlah ini jalan perjuangan kita yang kita persembahkan untuk sesuatu yang benar yaitu tuhan, tuhan yang maha esa, yaitu Allah SWT.
Salam semangat..
Yakin Usaha Sampai

Ketua PP Beltim Kunjungi Komisi Informasi Babel

Pangkalpinang, Lababel. Dalam rangka meinplementasikan UU KIP, Komisi informasi terus melakukan Upaya sosialisasi dan edukasi serta Advokasi UU No 14 tahun 2008 di berbagai lini, hari ini selasa, 4 februari 2020, komisi informasi KepulauAn Bangka Belitung di Gedung Gubernur lantai 4, menerima kunjungan Ketua. MPC Caretaker Pemuda Pancasila Kabupaten Belitung Timur dan ketua LAKI P – 45 (Laskar Anti Korupsi Pejuang – 45 ) pagi tadi.

susana pertemuan di KIP Babel

Dalam penyampaiannya, Iwan Gabus akrab dipanggil selaku ketua Carateker PP Beltim mengatakaan maksud kedatanganya ingin berkonsultasi mengenai permohonan informasi, agar masyarakat di kabupaten Belitung Timur menjadi paham dan tahu akan UU keterbukaan publik dan keberadaan Komisi Informasi (KI ) Babel ditengah – tengah masyarakat. Ia menyampaikan di belitung timur sendiri masyarakat maupun pengiat informasi selalu menemui jalan buntu disaat sejumlah masalah menimpa seperti kasus pertambangan, perkebunan dan lain- lain. Dan dia berharap dengan pertemuan ini keterbukaan informasi publik di belitung semakin terbuka.

Kunjungan ketua MPC PP beltim disambut Ketua KIP Babel syawaludin dan Wakil Ketua kIP Babel, A. Tarmizi di ruangan KIP Babel.

Dengan adanya UU ini ketua KIP Babel syawaludin menekankan manfaat UU KIP merupakan kebutuhan hidup. Informasi hatus terbuka agar Good Governance terwujud. Selain itu permintaan informasi harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Nantinya untuk menyelesaikan sengketa Informasi Publik, KI menyelenggarakan sidang yang dihadiri pemohon dan termohon, berdasarkan Perki No 1 tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, ia menjelaskan meskipun hukum acara di Komisi Informasi itu berbeda dengan hukum acara di peradilan umum tetapi Komisi Informasi itu juga adalah Quasi Yudisial dan proses persidangannya dinamakan Ajudikasi non Litigasi, ungkapnya.

Kritisi Kebijakan Lada, Kahmi Institute dan Petani Pelopor Babel Rancang Rekomendasi Kebijakan

Sebanyak 28 petani pelopor Babel mengadakan forum Focus Group Discussion (FGD) tentang kebijakan lada pemerintah pada hari Jum’at, 31 Januari 2020 di hotel Cordela Pangkalpinang, usai digelarnya ToT Sekolah Bisnis Petani selama lima hari oleh Lembaga internasional milik Pemerintah Federal Jerman (GIZ).

Suasana mendengarkan aspirasi peserta

Turut hadir dalam forum tersebut beberapa elemen masyarakat/organisasi antara lain: Bidang Pembangunan, Otonomi Daerah dan Pengembangan Sektor Unggulan Majelis Wilayah Kahmi Babel Tarmizi SP., Konsultan dan Praktisi Lada M. Iqbal Zamzami, Planing and Budjeting Specialist, Mokh. Ikhsan, Komisioner Penyiaran Indonesia Daerah Babel Imam Ghozali, M.Si., dan Kahmi Institute Babel, Satera Sudaryoso, MA. Hum.

keaktifan peserta dalam bertanya

Diselenggarakannya forum FGD ini, ditujukan dalam rangka merancang Policy Brief terkait kebijakan lada yang sudah, sedang, dan akan dijalankan Pemerintah. Rancangan dokumen Policy Brief ini, mengurai analisa kebijakan dan rekomendasinya kepada Pemerintah, sehingga kebijakan yang diambil dapat mempertimbangkan sejalan dengan usulan ini yang kemudian akan kita sampaikan langsung kepada Gubernur, ujar Satera Sudaryoso, selaku inisiator acara, sekaligus petani pelopor.

para peserta sedang memperhatikan narasumber

Selain merancang dokumen usulan dan rekomendasi, forum ini pun menghasilkan suatu kesepakatan dengan dilounchingnya Perhimpunan Petani Pelopor Lada Babel (P3LB), sebuah wadah berhimpunnya petani pelopor/milennial se-Babel. Mengingat bahwa perhimpunan ini diwakili oleh 1000-an petani binaan yang berasal dari empat kabupaten yang ada, yaitu: Bangka Barat, Bangka, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan, ujar M. Iqbal Zamzami, selaku ketua umum perhimpunan ini.

Selaras dengan itu, dalam paparannya, Mokh. Ihsan menilai, selama tiga tahun terkahir, Nilai Tukar Petani (NTP) sub sektor perkebunan masih di bawah 100%, yaitu berada di kisaran 80%-90%. Ini menunjukan bahwa, petani belum bisa mengandalkan usaha tani dan perkebunannya untuk menutup biaya hidup. Padahal, target Pemprov. Babel dalam RPJMD-nya, pada tahun ke-2, NTP di atas 100%.

Imam Ghazali pun, pembicara tamu forum ini, turut menawarkan kepada para petani agar bisa menyuarakan rekomendasi kebijakan ini yang bisa dikonfirmasi secara langsung kepada pihak terkait. Bahkan, bila pun diperlukan, pihaknya bisa saja memfasilitasi upaya dialog dan audiensi terkait dokumen yang disuarakan ini.