fbpx

Demonstran: Kebebasan Berpendapat Jangan Dihakimi

Memaknai Kebebasan Berpendapat

Kebebasan berbicara atau berpendapat merupakan hak untuk berbicara atau berpendapat secara bebas tanpa ada pembatasan, kecuali dalam hal menyebarkan keburukan atau kejelekan. Tentunya hak tersebut diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat 3 serta didukung dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1998 Pasal 1 ayat 1 tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Setiap orang berhak memperoleh perlindungan hukum atas kebebasan berpendapat di muka umum yang tertuang di Pasal 5 UU Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.

Kebebasan berpendapat ini yang mendasari seseorang bebas untuk mengeluarkan pendapat dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 23 ayat 2 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi “Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan negara.

Setiap orang atau kelompok bebas menyampaikan apa saja dengan mengindahkan aturan yang berlaku, unjuk rasa atau demonstrasi haruslah dimaknai sebagai bentuk kebebasan hak dari setiap individu yang merdeka. Tentu unjuk rasa dan demonstrasi adalah bentuk aspirasi yang ingin disampaikan, baik atau buruknya aspirasi tentu haruslah ditampung oleh pemerintah maupun wakil rakyat.

Suatu Negara Demokrasi tentu harus menghargai setiap individu yang ingin mengemukakan pendapatnya, menghargai dalam artian memberikan perlindungan terhadap siapapun yang ingin mengemukakan pendapatnya. Setiap demonstran yang melakukan aksi atau unjuk rasa haruslah dilindungi, diawasi, bukan dipukuli hingga babak belur. Mahasiswa atau para demonstran yang melakukan aksi tentu patut diberikan ruang untuk berbicara, diberikan rasa aman dalam menyampaikan pendapat seluas-luasnya.

Beredar video adanya pemukulan terhadap massa aksi tentu sangat memprihatinkan bagi Negara yang katanya menganut sistem demokrasi. Soe Hok Gie pernah berbicara dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran “Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah”. Tentunya perihal tindakan represif terhadap massa aksi tidak sangat dibenarkan, jika massa aksi melakukan kericuhan, maka lebih baik diamankan dan diberikan arahan serta edukasi bukan dipukuli. Tidak tepat jika menghakimi para demonstran, tentu para demonstran menyuarakan aspirasi terhadap Pemerintah maupun wakil rakyat yaitu DPR agar dapat didengarkan.

Mahasiswa sebagai generasi pelurus bukan penerus

Tentunya mahasiswa sebagai Agent of Change, Agent of Control berhak mengkritisi segala kebijakan Pemerintah yang dirasa merugikan masyarakat, idealis kawan-kawan mahasiswa tentu harus diberikan ruang, jangan dibully maupun dihakimi, sejatinya mereka menuntut serta memperjuangkan hak-hak masyarakat secara umum. Secara umum, mahasiswa dituntut sebagai seseorang atau sekelompok kaum intelegensia yang harus memberikan perubahan serta kemajuan di kemudian hari yang mendatang, sebagai generasi yang akan datang. Mereka akan menggantikan peran-peran dari pemerintah yang berkuasa saat ini, tentu mereka harus dibekali kemampuan secara pengetahuan umum dan pengetahuan tentang masyarakat sekitar, agar tidak gagap dalam mempraktekkan teori yang mereka dapatkan selama di bangku perkuliahan.

Generasi pelurus bukan penerus yang diartikan bahwa mahasiswa harus meluruskan apa yang telah menyimpang dari sesungguhnya, seperti oknum DPR, oknum Pemerintahan, Oknum Kedinasan yang melakukan korupsi dan perbuatan melawan hukum lainnya yang merugikan Negara dan Masyarakat, bukan malah meneruskan perbuatan tersebut. Memperbaiki sistem tatanan sosial Masyarakat, berperan aktif di kehidupan Masyarakat sekitar bukan hanya berbicara teori semata, tetapi praktek langsung dan memberikan contoh yang baik dan benar.

Era saat ini, dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Mahasiswa kebanyakkan lebih sibuk dengan gadget mereka, bukan mahasiswa secara keseluruhan, tetapi dapat kita lihat, seberapa banyak mahasiswa kekinian yang masih menggandeng buku. Tetapi sepatutnya mahasiswa harus menyibukkan diri untuk berdialektika, membaca buku, berdiskusi serta menulis. Mereka-mereka kaum intelegensia harus lebih serius menggeluti dunia pendidikan, bukan hanya mengejar selembar kertas Ijazah.

Tan Malaka pernah mengungkapkan “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Artinya sejatinya pendidikan yang didapatkan di bangku sekolah maupun perkuliahan diperuntukkan untuk mencerdaskan masyarakat bukan untuk memperkaya diri sendiri.

Mengubah dunia ataupun Negara dalam konteks yakni memperbaiki yang salah, bukan membenarkan yang salah. Sebagai generasi pelurus tentu harus bersikap ideal dalam menyikapi persoalan kekinian, dan harus selalu update dengan kondisi Negara, pastinya tidak terikat dengan kepentingan pribadi, tetapi demi kepentingan umat atau Masyarakat secara keseluruhan, artinya dasar tindakan yang diambil oleh generasi pelurus dalam hal ini kaum intelegensia tentu murni demi kesejahteraan dan keselamatan Masyarakat.

You may also like...