fbpx

Dunia dalam genggaman

Era Digitalisasi

Era digital terlahir ditandai kemunculan digital, jaringan internet khususnya teknologi informasi komputer. Media massa beralih ke media baru atau internet karena ada pergeseran budaya dalam sebuah penyampaian informasi. Kemampuan media era digital ini lebih memudahkan masyarakat dalam menerima informasi lebih cepat. Adanya media internet membuat media massa berbondong-bondong berpindah haluan. Semakin canggihnya teknologi digital masa kini, tentu telah melahirkan perubahan besar terhadap dunia, lahirnya berbagai macam teknologi digital yang semakin maju telah banyak bermunculan. Berbagai kalangan telah dimudahkan dalam mengakses suatu informasi melalui banyak cara, serta dapat menikmati fasilitas dari teknologi digital dengan bebas dan terkendali.

Tentu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kini memberikan kemudahan terhadap masyarakat dalam menerima suatu informasi maupun membagikan sebuah informasi. Salah satu kemajuan teknologi ialah adanya sebuah perangkat seluler yang lebih dikenal di masyarakat yakni handphone. Perangkat seluler handphone atau sejenisnya, tentu hampir dimiliki setiap masyarakat. Tentu dapat disimpulkan bahwa handphone sudah masuk dalam kebutuhan pokok seseorang.

Perkembangan zaman telah memasuki babak baru yaitu industri 4.0. Artinya era yang serba digital, semula dahulunya harus dilakukan secara manual. Akan tetapi, kekinian bergeser menjadi serba otomatis yang dilakukan dengan hanya mengakses aplikasi. Seperti halnya dahulu kala, ketika orangtua harus mengirimkan uang terhadap anaknya yang merantau melalui wesel, proses tersebut bisa berhari-hari hingga berminggu-minggu baru uang tersebut dapat diterima anaknya. Kekinian orangtua bisa mengirim uang melalui mesin ATM ataupun M-Banking yang tentu prosesnya sangat cepat dan mudah. Tidak hanya sampai disitu. Era digital saat ini telah mempengaruhi cara kita dalam berkomunikasi dan berinteraksi, serta berhasil mempengaruhi landcape bisnis yang ada di Indonesia, bahkan hingga dunia.

Patut disadari bahwa suatu perubahan tentu membawa sebuah sisi positif serta sisi negatif. Persoalan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentu ada sisi positif maupun negatif yang tentu tidak bisa terhindari. Sisi positifnya ialah mempermudah masyarakat secara umum untuk mengakses atau mendapatkan arus informasi, membantu bisnis usaha kalangan masyarakat dalam menjangkau pembeli secara luas dengan mudah, proses administrasi yang cepat dan efisien di kalangan pemerintahan. Ditinjau dari sisi negatifnya ialah individu cenderung malas untuk berinteraksi sosial secara fisik, meningkatnya delik kejahatan seperti penipuan dan kejahatan cyber, game online yang dapat merusak mental generasi muda, konten negatif serta berita tak bertanggungjawab yang tentunya akan mempengaruhi pola pikir dan cara pandang masyarakat.

Kebebasan Berekspresi di sosial media

Reformasi 1998 ialah tonggak awal pengakuan HAM di Indonesia. Sistem ketatanegaraan dan hukum Indonesia kini telah mengadopsi prinsip-prinsip HAM. Tentu ini merupakan salah satu capaian yang menjadi kesuksesan kisah gerakan Reformasi. Negara pasca Orde Baru diharapkan bersikap lebih positif terhadap kondisi HAM. Harapan yang lahir di tengah masyarakat ialah dimana setiap pemimpin mampu membawa estafet perjuangan HAM di setiap kepemimpinan mereka.

Keseriusan Negara dalam mengawal HAM dibuktikan dengan lahirnya beberapa Undang-Undang seperti Undang-Undang No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum yang artinya setiap orang bebas berpendapat, berekspresi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan selama tetap mengindahkan aturan, norma dan kaidah yang berlaku. Serta ditandai lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang dapat diartikan bahwa transformasi informasi dapat diterima dan diakses siapapun, maka tidak akan ada lagi masyarakat yang ketinggalan atas suatu informasi, dan masih banyak lagi peraturan perundang-undangan lainnya.

Kebebasan Berekspresi merupakan elemen penting dalam jalannya Negara demokrasi, tentu  partisipasi publik sangat diharapkan, diharapkan adanya kesadaran publik dalam menyampaikan aspirasi mereka terhadap pemimpin maupun dalam segi pengambilan suara, serta berperan aktif dalam kegiatan sosial maupun dunia maya terhadap sesama masyarakat lainnya. Seidealnya publik yang memiliki Hak Kebebasan Berekspresi dapat memanfaatkannya dengan bijaksana tanpa merugikan pihak manapun.

Lahirnya situs jejaring sosial yang merupakan sebuah pelayanan berbasis web, memungkinkan penggunanya untuk membuat sebuah akun. Hubungan antara perangkat mobile dengan halaman web internet melalui “jaringan sosial” telah menjadi standar dalam komunikasi digital. Situs pertemanan bernama Friendster terus berkembang ke situs-situs seperti MySpace, Facebook, Twitter dan lain-lain. Revolusi digital merupakan kemampuan untuk dengan mudah memindahkan informasi digital antara media, dan untuk mengakses atau mendistribusikannya jarak jauh.

Platform sosial media sebagai wadah masyarakat untuk mengekpresikan diri, dimulai dari kehidupan sehari-hari hingga ke rahasia pribadi pun yang sepatutnya tak perlu untuk di publish secara umum. Facebook salah satunya sebagai platform sosial media yang hampir rata-rata masyarakat indonesia memiliki akun pribadi untuk mengaksesnya. Saat ini penampakan berselancar di sosial media sudah menjadi pola kebiasaan.

Kebiasaan tersebut membuat jari kita bekerja lebih ekstra dibandingkan mulut, karena dengan mudahnya akses terhadap sosial media, sehingga jari lebih dibutuhkan, maka indikasi jari lebih berbahaya dari mulut bukan hal yang aneh. Banyak tulisan maupun ketikan yang tak bertanggungjawab menjadi ancaman bagi si penulis itu sendiri. Dimulai dari ujaran kebencian yang berujung pada tindak pidana, UU ITE Pasal 27 ayat 3 menjadi rambu peringatan bagi siapapun yang tidak bijaksana dalam menggunakan sosial media.

Bila ada pepatah “mulutmu adalah harimau mu” maka sekarang pepatah itu beralih menjadi “jarimu adalah harimau mu”. Apa yang  kita ketik di keyboard komputer maupun telepon pintar, maka itu adalah representasi dari si pemilik akun.  Maraknya saat ini bertebaran hate speech maupun hoax yang berkembang di platform media sosial, tentu itu menjadi masalah kita bersama, dan harus kita perangi bersama-sama, demi terciptanya keadaan yang nyaman dan damai.

Raiza Rana Viola Riady,S.H

PHL Bidang IKP Diskominfo Kota Pangkalpinang

You may also like...