fbpx

Eksistensi Usaha Kecil dan Kepariwisataan Sebagai Kemandiran Desa

Sudah berbulan – bulan pandemi merajalela membatasi orang dalam melakukan aktifitas baik berada di kota maupun di desa. Pandemi telah melumpuhkan sebagian sendi kehidupan. Sektor – sektor perputaran uang menjadi lambat bahkan stagnan. PHK dimana – mana menyebabkan lambatnya pertumbuhan ekonomi dan hancur. Hanya sektor pertanian tidak terdampak dikarenakan manusia membutuhkanya walau apa pun terjadi. Bahkan Desa menjadi tempat mencari rejeki bagi mereka yang berasal dari desa. Desa memang diberi ruang otonomi powerfull dalam melaksanakan pemerintahan desa sesuai UU no 6 tahun 2014 tentang Desa.

Salah satu powerfullnya adalah pasal 1 butir 12 UU Desa menyebutkan bahwa Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa.
Kemandirian Desa itu dapat dilihat dari Pemberdayaan masyarakat dalam menumbuhkan UMKM dan kontribusi UMKM dalam mendukung terwujudnyaa Kemandirian Desa. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), usaha kecil didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi produktif yang berdiri sendiri

Menumbuh kembangkan UMKM menjadi prioritas utama dalam mendukung prioritas lain seperti saat ini sejumlah Desa sedang gencarnya melakukan pembangunan wisata desa. Sektor wisata setidaknya ada daya tarik untuk dikunjungi seperti keunikan, souvernir, kuliner, ole -ole dan aman dari covid 19. Beberapa pekan terakhir pariwisata mulai bangkit dari keterpurukan akibat pademi. Maka dari itu pebukaan tempat wisata perlu didukung terutama wisata desa sebagai program desa untuk menambah pendapatan desanya. Pembangunan wisata tidak terlepas dari sektor UMKM dan pertanianan. Ketiganya saling berkalaborasi. Untuk itu peningkaran sumber daya manusia lokal harus menjadi target keberhasilan dalam menunjang perekonomian desa. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyatakan bahwa destinasi atau juga disebut sebagai daerah tujuan pariwisata terdiri atas unsur daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Membangun wisata tidak hanya menjual keindahan saja tetapi fasilitas dan akses. Wisatawan juga mendapatkan akses produk wisata baik cindera mata maupun kuliner. Ketersedian fasilitas ini harus ada disaat pembangunan pariwisata desa seperti wisata alam, pantai, agrowisata, wisata hutan dan lainnya. Ini semua tidak terlepas dengan lelaku usah kecil menengah itu sendiri.

Usaha kecil menengah perlu ditopang dari sisi pendampingan mulai dari pengolahan, kemasan serta perizinan hingga pemasaran yang semuanya itu perlu didampingi. Masih banyak makanan olahan yang dijual masih ala kadarnya padahal dari rasanya mempunyai nilai jual tinggi, tetapi karena penampilan produk menjadi tidak menarik ini yang merupakan tugas dalam mewujudkan UMKM pelaku usaha kecil.

Dalam menjaga keberadaan usaha kecil yang masih tetap berjalan ditengah pandemi tidak salahnya menjadi momentum kebangkitan ekonomi rakyat dalam mempromosi produknya dengan polesan modern. Dengan begitu usaha kecil bisa menjadi UMKM apalagi sektor wisata menjadi tujuan orang berpergian selama berbulan – bulan dirumah saja dan terbatas. Eksistensi Usaha kecil bisa menjaga kesetabilan ekonomi, pemanfaatan hasil pertanian dan memberikan efek positif dalam menunjang dunia kepariwisataan.

Z

Kontributor  Langitbabel.com

You may also like...