fbpx

Keresahan Ketika Camping di Pantai

Share

Saya ingin bercerita sedikit dengan hobi tentang bagaimana saya membunuh waktu atau menghabiskan waktu dengan berkemah atau yang saya sebut camping.

Camping atau berkemah bagi saya adalah cara membunuh atau menghabiskan waktu dengan tidak akan sia-sia, sebab aktivitas tersebut membantu saya menemukan ketenangan dari riuh dan bisingnya perkotaan.

Karena di Bangka Belitung daerah kepulauan dikelilingi lautan dan banyak pantai, maka salah satu tempat saya camping adalah pantai, pantai disekitar Kabupaten Sungailiat.

Pantai yang memiliki suasana sunyi meski bergemuruh ombak, tetap menjadi tempat yang paling menenangkan dan mengosongkan fikiran dan hati yang kadang penuh kebencian.

Dengan sedikit hutan, pepohonan, rumput, bunga liar, burung dan jangkrik yang kadang kala berteriak, dalam hati saya mungkin merekapun ingin melepaskan penat dari kehidupan disiang hari.

Suasana pantai dengan gemuruh ombak, angin yang lembab dan keasinan, cahaya matahari atau sinar rembulan, menjadi hiasan yang melengkapi kehidupan yang damai.

Namun, saya tetap saja dibuat kesal oleh pengelolaan pantainya, saya ingin berbagi pengalaman yang menjengkelkan, ketika pantai yang akan saya datangi ternyata ada peraturan waktu berkunjung dibatasi sampai matahari terbenam.

Disalah satu pantai yang minim fasilitas tapi masuknya dipungut biaya dan waktu berkunjung terbatas menurut saya sangat menjengkelkan, dalam hati saya mungkin pantai ini punya nenek moyangnya.

Teman-teman bayangkan, dipantai yang konsepnya tidak ada seperti pantai pada umumnya, sepi dan gelap, minim fasilitas, lewat sedikit ketika matahari terbenam, pantai ditutup dengan sebuah portal panjang.

Yang seharusnya bagi saya, pemungutan biaya tersebut tidak menjadi masalah, asal digunakan untuk pengelolaan pantai menjadi lebih bagus, meningkatkan fasilitas, ini kok malah jalan masuknya saja berdebu, penuh lubang, bentuknya jalannya tidak jelas.

Fasilitas toilet tidak ada, pondok-pondokan kayu juga masih bayar, sampah masih berhamburan, yang menjadi pertanyaan saya adalah untuk apa pengunjung dipungut biaya ? Datang malam hari tidak bisa masuk karena di tutup.

Dan tidak kita ketahui, sekelompok orang yang memungut biaya masuk pengunjung berasal dari mana, apa wewenangnya, untuk apa biaya tersebut. Apakah mereka melakukan pemungutan liar ?

Tulisan ini saya bagikan, agar dibaca oleh Pemerintah agar dapat mengawasi pengelolaan pantai di Bangka Belitung, sehingga dapat dijadikan daerah pariwisata yang berkonsep, yang memiliki ciri khas, atau minimal tidak minim fasilitas.

Karena dalam hal ini Pemerintah lah yang punya hak dan wewenang dalam pengelolaan pantai, pantai-pantai tersebut mau dijadikan sebagai tempat angker atau surga dunia ada ditangan Pemerintah.

Apabilapun suatu pantai dikelola oleh swasta, dapat mematuhi aturan main pengelolaan pantai oleh Pemerintah, sesuai dengan konsep Pemerintah. Pemerintah harus tegas kalau ingin pariwisata daerah maju.

Sekali lagi saya tegaskan, keberlangsungan pantai sebagai daerah wisata ada ditangan Pemerintah.

Sehingga masyarakat seperti saya dapat menikmati pantai dengan nyaman, kalau ternyata tetap seperti itu jangankan turis, sayapun enggan berkunjung kepantai tersebut.

You may also like...