fbpx

Masyarakat Geneologis Teritorial Adat Istiadat

Share

Menurut Soepomo, masyarakat hukum adat di Indonesia terbentuk karena factor genealogi yakni karena pertalian berdasarkan keturunan dan territorial yakni karena ruang lingkup suatu daerah. Berikut beberapa contoh yang menjelaskan pembentukan hukum adat di Indonesia :

  1. Faktor Masyarakat Geneologi

Hukum adat terbentuk karena adanya sekelompok masyarakat yang terikat atau membentuk ikatan kemudian turun temurun karena pertalian keturunan mengakuinya sebagai hukum adat diantara mereka, misalnya :

  1. Patrilineal : Adalah masyarakat hukum adat dengan garis kuat keturunan laki-laki (Bapak) yang dijalankan di Suku Batak, Lampung, Bali, NTT, Maluku dan Irian.
  2. Matrilineal, masyarakat hukum adat dengan garis kuat keturunan perempuan (Ibu) yang dijalankan di Suku Minangkabau, Kerinci, Semendo (Sumsel), dan beberapa suku di Timor;
  3. Bilateral / Parental, masyarakat hukum adat dengan garis kuat keturunan dari Bapak dan Ibu secara bersama-sama, yang dijalankan oleh suku bugis, dayak dan jawa
  1. Faktor Teritorial.

Hukum adat terbentuk karena factor keterikatan sekelompok masyarakat karena telah hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu. Hidup bersama itu dilatarbelakangi karena lahir dan tumbuh kembang yang sama didaerah tersebut. Misalnya :

Desa yang memiliki persekutuan hukum yang terus diwarisi dan masih diterima hingga saat oleh anggota masyarakat desa. Hukum adat desa ini banyak ditemukan di jawa dan bali;

Lebih luas hukum adat daerah, seperti hukum adat nagari yang masih dipatuhi oleh masyarakat minangkabau, marga di sumatera selatan, kuria di tapanuli, dan lampung

Hukum adat perserikatan desa yang diadakan antar desa untuk kepentingan tertentu misalnya subak yang diadakan di Pulau Dewata Bali

John Ganesha Siahaan

Kelahiran Belinyu tertarik pada isue demokrasi, pembaharuan hukum dan pengawasan kebijakan publik. Aktif sebagai pekerja bantuan hukum dan Penggiat Ekonomi Kreatif pada Pengembangan Industti 4.O

You may also like...