fbpx

Pendidikan yang Membebaskan

Filosofi Pendidikan

Berbicara persoalan filosofi tentu yang terlintas ialah filsafat. Filosofi dan filsafat secara bahasa hampir sama, namun keduanya memiliki makna dan pengertian yang berbeda. Filsafat merupakan sikap atau pandangan untuk memahami segala fenomena yang ada. Intinya filsafat merupakan bidang studi yang membahas segala fenomena yang ada di dunia ini secara kritis, radikal, sistematis dan universal. Sedangkan filosofi merupakan suatu kerangka berpikir atau hasil pemikiran secara kritis guna menyelesaikan suatu masalah. Artinya solusi  yang dihasilkan merupakan suatu hasil atau buah dari proses berfikir secara kritis. Menurut KBBI, filosofi merupakan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal pikiran mengenai hakikat dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan filososfi pendidikan merupakan suatu landasan dalam pendidikan mengenai asumsi-asumsi yang didasarkan pada filsafat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.

Perlunya memahami filosofi pendidikan, tentu filosofi pendidikan bisa dijadikan sebagai suatu pendekatan guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pendidikan, karena filososfi pendidikan disini merupakan pemikiran paling dasar mengenai pendidikan. Permasalahan-permasalahan dalam pendidikan sangatlah luas, mendalam dan kompleks, karena masalah-masalah tersebut muncul karena beragamnya tujuan hidup dari manusia. Memahami filosofi pendidikan akan lebik efektif jika pembahasan filosofi pendidikan ditinjau dari segi ontologi pendidikan, epistimologi pendidikan dan aksiologi pendidikan.

Ontologi pendidikan merupakan bagian dari komponen filsafat yang membahas tentang dasar atau hakikat dari objek. Maka dari itu, ontologi pendidikan merupakan pembahasan mengenai hakikat, kenyataan, dan sebab akibat     dari pendidikan. Pendidikan merupakan suatu usaha sadar untuk menciptakan generasi yang cerdas, berbudi pekerti, dan memiliki pengetahuan yang luas.

Epistimologi Pendidikan dalam studi filsafat, epistimologi merupakan proses berpikir guna mengkaji secara mendalam mengenai asal-usul, struktur dan metode. Pendapat lain mengatakan bahwa epistimologi ini kajiannya lebih pada metode, sarana, teknik dan cara yang digunakan. Oleh karena itu, epistimologi pendidikan sewajarnya bisa menyatakan bahwa asal-usul pendidikan bukanlah dari manusia, melainkan dari Tuhan yang maha Esa. Seperti halnya dalam islam, yang menyatakan bahwa ilmu itu merupakan pemberian Tuhan, sedangkan manusia adalah penerima ilmu. Lalu proses manusia memperoleh ilmu itu ada 2 macam, ada yang langsung dari tuhan (proses ilahiyah) dan melalui pemikiran manusia itu sendiri (proses insaniyah).

Aksiologi Pendidikan, aksiologi dalam studi filsafat merupakan sebuah pemikiran yang kajiannya lebih fokus pada nilai dan tujuan. Maka dari itu, kajian aksiologi pendidikan meliputi nilai dan tujuan dari pendidikan. Adapun nilai yang terkandung dalam pendidikan sangatlah banyak, tapi yang paling dasar dari nilai pendidikan ada 2 macam, yaitu etika dan estetika. etika merupakan bagian dari aksiologi yang membahas tentang moral, adat istiadat, kebiasaan dalam sebah komonitas. Pada intinya, etika merupakan sesuatu yang sangat fundamental jika dilihat dari aspek ontologi pendidikan dan hal ini sejalan dengan hakikat pendidikan itu sendiri. Sedangkan estetika merupakan bidang studi atau kajian yang membahas tentang keindahan. keindahan merupakan sesuatu tentang diri dari sesuatu yang didalamnya tersusun secara rapi dan tertib dalam suatu hubungan yang utuh.

Pendidikan yang Membebaskan Menurut Paulo Freire

Sistem pendidikan yang diterapkan Paulo Freire yakni “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya bank”. Sistem pendidikan hadap masalah yang penekanan utamanya pada penyadaran. Menurut Paulo Freire masyarakat feodal (hirarkis) adalah struktur masyarakat yang umum berpengaruh di Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini, terjadi perbedaan mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan strata masyarakat “bawah”. Golongan atas selalu menjadi penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan, karena itu menyebabkan golongan masyarakat bawah menjadi semakin miskin sekaligus menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.

Kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi kritis dalam budaya seperti ini tetap tidur dan tidak tergugah. Akibatnya waktu lalu hanya dilihat sebagai sekat hari ini yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang panjang, monoton dan membosankan sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang belum disadari. Dalam kebudayaan bisu yang demikian itu kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan mereka. Itulah dehumanisasi karena bahasa sebagai prakondisi untuk menguasai realitas hidup telah menjadi kebisuan. Diam atau bisu dalam konteks yang dimaksud Freire bukan karena protes atas perlakuan yang tidak adil. Itu juga bukan strategi untuk menahan intervensi penguasa dari luar. Tetapi, budaya bisu yang terjadi adalah karena bisu dan bukan membisu. 

Mereka dalam budaya bisu memang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak memiliki kesadaran bahwa mereka bisu dan dibisukan. Karena itu, menurut Freire untuk menguasai realitas hidup ini termasuk menyadari kebisuan itu, maka bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa berarti mempunyai kesadaran kritis yang berguna untuk mengungkapkan realitas. Tentunya, pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan ialah pendidikan yang melaluinya nara didik dapat mendengar suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk memampukan mereka mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik. 

Pendidikan hadap-masalah sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik.

Penulis : Raiza Rana Viola Riady,S.H.

You may also like...