fbpx

Pengabdian Sang Dr Eka Sulastri

Share

Langitbabel – Misi kesehatan dan kemanusiaan menjadi tanggung jawab yang dipikul setiap dokter, seperti kisah dr Eka Sulastri, Dokter Umum Lulusan UNSRI mengabdi di Puskesmas Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.

dr Eka Sulastri selalu mengunjungi Dusun terpencil bernama Pangkalan Batu yang masuk kedalam wilayah Desa Ranggung, Bangka Selatan. Setiap satu bukan sekali, tepatnya minggu ke empat bersama rombongan Puskesmas Kecamatan Payung.

Aktifitas mereka bertajuk layanan Puskesmas keliling. Untuk menjangkau dusun yang berjumlah 60 kepala keluarga ini, mereka harus menempuh rawa dan daratan berlumpur selama kurang lebih satu jam perjalanan.

Berbekal ilmu pengetahuan serta niat tulus, dokter eka panggilannya mengabdikan dirinya bagi upaya kesehatan masyarakat bagian sebagian warganegara Indonesia. Dimanapun ia ditempatkan, di kota, di desa, atau di daerah pedalaman sekalipun, misi kemanusiaan itu akan tetap dipegang teguh.

Biasanya kami naik ambulans pak (wartawan) Cuma tadi ambulans merujuk pasien dan satunya rusak, jadi kami gunakan mobil operasional,

ungkap Dokter Umum Puskesmas Payung, dr Eka Sulastri.

Dalam memberikan layanan kesehatan dr Eka Sulastri juga melibatkan 6 (enam) orang tenaga kesehatan dari Puskesmas Payung Bangka Selatan, yang terdiri dari dokter umum, bidan dan petugas gizi, perawat, apoteker serta dibantu oleh dua orang kader kesehatan.

Seperti biasa kami memberikan layanan pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, konsultasi gizi serta apoteker juga kami ikut sertakan,” lanjutnya.

dr Eka Sulastri.

Dikatakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya ini, baginya pengabdian adalah bagian dari ibadah, harus dijalankan dengan keikhlasan.

Bagaimanapun kondisi daerah penugasan, bukan menjadi penghalang untuk mengabdikan diri kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, khususnya bagi warga Pangkalan Batu dan Kecamatan Payung pada umumnya,”tuturnya.

Dirinya bersyukur saat ini, Dusun Pangkalan Batu sudah memiliki akses jalan darat, hingga waktu tempuh untuk memberikan layanan dapat dipersingkat.

Dulunya, tim medis harus naik perahu menelusuri sungai dan memakan waktu 40 menit, tidak cukup sampai disana, kami juga mesti berjalan kaki selama 20 hingga 30 menit untuk mencapai pemukiman penduduk,” tutup dr Eka Sulastri.

Lababel

Portal berita dan blog dan publisher terhadap konten musik, foto, film dan video (karya seni hiburan)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.